Ouhh hai selamat membaca tulisan yang berserakan yang berusaha mencoba untuk rapi dan baik. Aku, orang yang nyaman dengan kata tidak percaya diri. Sudah sadar akan hal yang tak baik untuk dipertahankan, tetepai tetap saja gak bisa kulepaskan. Karena hal sudah nyaman dalam diriku. Sampai akhirnya mau melakukan apapun selalu berfikir beribu kali dan pada akhirnya tidak jadi kulkaukan. Semua salah ketidak percayaan diriku. Yang selalu menjadi alasan aku mempertahankannya yaitu, bentuk wajah, warna kulit, postur tubuh bahkan sampai parahnya sampai tidak percaya diri dengan nama yang diberikan kedua orang tuaku. Buruk sekali bukan? Semua bermula dari kurangnya interaksi dan perbandingan yang selalu aku dapatkan. Bukankah semua orang mendapatkan perbandingan? iya,tapi mental orang berbeda dalam menyikapi perbandingan itu.